Sebagai
orang yang kadangkala menggunakan kapal atau perahu atau sejenisnya sebagai
transportasi laut, salah satu yang mengkuatirkan adalah ketika dalam pelayaran
dan kapal tersebut mengalami kebocoran. Saya membayangkan seandainya saya
sementara berada di tengah lautan lepas dan nahkoda memberikan pengumuman bahwa
kapal saat ini sementara mengalami masalah karena kebocoran, nyaris dalam benak
saya sebentar lagi kapal akan karam atau tenggelam. Salah satu refleksi analogi
Gereja sebagai bahtera dapat terlihat dalam Nyanyian Kidung Baru No. 111 yang
biasanya dilagukan oleh gereja-gereja .
Lintasan sejarah gereja
yang mengarungi lautan, tidak pernah sepi dengan badai dan amukan gelombang
yang dahsyat. Bahkan salah satu momentum sejarah gereja yang dihempas dengan
badai yang dahsyat ditahun 1517, ketika badai itu datang dari internal gereja
sendiri terkait pengajaran, praktek menggereja, dan budaya yang ada pada waktu
itu. Segudang persoalan gereja yang menumpuk pada waktu itu yang membuat
bahtera terhempaskan dan mungkin dapat dikatakan bahtera itu sudah mulai kebocoran.
Praktek kekuasaan gereja yang sudah melampaui dari kewenangan mereka untuk
mengatur. Misalnya penjualan surat penghapusan dosa yang sangat viral pada
waktu itu. Jemaat tidak diberikan ruang untuk membaca dan berinteraksi langsung
dengan buku Alkitab. Praktek pelayanan gereja hanya dimiliki oleh para penguasa
dan tidak melibatkan seluruh jemaat.
Oleh sebab itu Tuhan membangkitkan
hamba-Nya Marthin Luther untuk berespons terkait “kebocoran-kebocoran” yang
terjadi. Satu hal yang menarik bahwa di saat seperti itu, seorang Marthin
Luther berjuang dengan dirinya sendiri. Dalam sebuah percakapan imannya dengan
dirinya sendiri yang dapat dibaca melalui pertobatan imannya. Awalnya dia
sangat berjuang dengan pertobatan pribadinya dengan melakukan askese ekstrim
atau mengasingkan dirinya di dalam biara. Dengan kekuatannya dia mencoba
memperoleh keselamatan, berpuasa, berdoa, menyiksa dirinya dengan aturan-aturan
biara. Namun hatinya tetap tersiksa dan jauh dari rasa aman, sampai suatu
ketika di kamarnya dia menghayati Surat Roma dan ketika sampai di Roma 1:17,
dia membaca “orang benar akan hidup oleh iman”. Dia berhenti, merenung, dan ini
menjadi momentum penting baginya melihat “pintu gerbang surga” terbuka lebar
baginya.
Pertobatan Luther menghentarnya untuk
melakukan berbagai macam terobosan, perlawanan, reformasi dan tindakan konkrit
terkait kebocoran bahtera yang terjadi pada zamannya. Gereja tidak dilihat lagi sebagai hirarki
para pejabat gereja, tetapi komunitas orang-orang percaya. Dia melihat gereja
sebagai organisme, yaitu tubuh yang hidup di mana setiap orang adalah
anggotanya. Melihat gereja tidak lagi sebagai organisasi yang dibuat oleh para
pejabatnya tetapi Kristus yang adalah Kepala yang berhak dan berotoritas untuk mengatur.
Setelah
5 abad berlalu, tentunya gereja yang dianalogikan sebagai bahtera mengalami
banyak perubahan konteks dan pergantian generasi. Berbagai upaya yang dilakukan
oleh gereja untuk melakukan semper reformanda, namun tetap saja tidak
sepi dengan tantangan dan gelombang. Disinilah gereja sebagai komunitas orang
percaya memainkan perannya untuk terus berkarya dan dalam waktu yang bersamaan
melakukan koreksi iman menuju labuhan yang telah disiapkan oleh Tuhan.
Apabila merujuk kepada syair NKB No. 111 yang
bunyinya seperti di bawah ini:
Gereja bagai bahtera di
laut yang seram
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Mengamuklah samudera dan badai menderu;
gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?
Reff
Tuhan,
tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!
Hal tersebut memberikan
perenungan yang mendalam buat kita sebagai gereja. Tentunya sejuta isu dan problematika
gereja yang dapat digambarkan sebagai badai dan gelombang yang menghantam sebuah
bahtera yang mengakibatkan kebocoran. Mungkin isu kekuasaan gereja yang terlalu
liar dan dijalankan atas kehendak dan kontrol orang-orang tertentu. ataukah
kehidupan moral yang tidak lagi dalam bingkai Injil. Kehidupan gereja yang saling
membenci dan menyimpan akar kepahitan. Kehidupan gereja yang pasif dan diam
serta tidak ada lagi suara kenabian yang terdengar. Penataan keuangan yang
tidak terkontrol yang mengakibatkan hilangnya kepercayaan satu terhadap yang
lain. Saling menghakimi seolah-olah kitalah orang yang paling benar. Kesombongan
rohani yang melihat diri kita seolah-olah di antara sekian banyak orang,
kitalah yang paling rohani. Bersembunyi di balik jubah pelayanan untuk
membenarkan setiap pelayanan yang kita lakukan. Kekerasan hati yang sulit
mengakui kalau apa yang kita lakukan sudah melukai banyak orang.
Tidak bisa dipungkiri,
reformasi gereja memang telah melukai dirinya sendiri, namun hal tersebut
dibutuhkan agar gereja kembali kepada jalan yang benar alias berlayar di di
jalan yang Tuhan kehendaki. Ketika Marthin Luther melakukan sebuah terobosan,
dia memastikan dirinya sebagai hamba yang clear dalam hal pertobatan dan
imannya, seorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri bersama Tuhan. Tentunya
dia bukanlah manusia sempurna namun dalam hal motivasi dan seluruh kehendaknya
dipimpin dan dituntun melalui karya Roh Kudus

No comments:
Post a Comment