Monday, 2 November 2026

Gereja : Bahtera yang Mulai Bocor? sebuah refleksi hari reformasi gereja

Sebagai orang yang kadangkala menggunakan kapal atau perahu atau sejenisnya sebagai transportasi laut, salah satu yang mengkuatirkan adalah ketika dalam pelayaran dan kapal tersebut mengalami kebocoran. Saya membayangkan seandainya saya sementara berada di tengah lautan lepas dan nahkoda memberikan pengumuman bahwa kapal saat ini sementara mengalami masalah karena kebocoran, nyaris dalam benak saya sebentar lagi kapal akan karam atau tenggelam. Salah satu refleksi analogi Gereja sebagai bahtera dapat terlihat dalam Nyanyian Kidung Baru No. 111 yang biasanya dilagukan oleh gereja-gereja .

Lintasan sejarah gereja yang mengarungi lautan, tidak pernah sepi dengan badai dan amukan gelombang yang dahsyat. Bahkan salah satu momentum sejarah gereja yang dihempas dengan badai yang dahsyat ditahun 1517, ketika badai itu datang dari internal gereja sendiri terkait pengajaran, praktek menggereja, dan budaya yang ada pada waktu itu. Segudang persoalan gereja yang menumpuk pada waktu itu yang membuat bahtera terhempaskan dan mungkin dapat dikatakan bahtera itu sudah mulai kebocoran. Praktek kekuasaan gereja yang sudah melampaui dari kewenangan mereka untuk mengatur. Misalnya penjualan surat penghapusan dosa yang sangat viral pada waktu itu. Jemaat tidak diberikan ruang untuk membaca dan berinteraksi langsung dengan buku Alkitab. Praktek pelayanan gereja hanya dimiliki oleh para penguasa dan tidak melibatkan seluruh jemaat.

          Oleh sebab itu Tuhan membangkitkan hamba-Nya Marthin Luther untuk berespons terkait “kebocoran-kebocoran” yang terjadi. Satu hal yang menarik bahwa di saat seperti itu, seorang Marthin Luther berjuang dengan dirinya sendiri. Dalam sebuah percakapan imannya dengan dirinya sendiri yang dapat dibaca melalui pertobatan imannya. Awalnya dia sangat berjuang dengan pertobatan pribadinya dengan melakukan askese ekstrim atau mengasingkan dirinya di dalam biara. Dengan kekuatannya dia mencoba memperoleh keselamatan, berpuasa, berdoa, menyiksa dirinya dengan aturan-aturan biara. Namun hatinya tetap tersiksa dan jauh dari rasa aman, sampai suatu ketika di kamarnya dia menghayati Surat Roma dan ketika sampai di Roma 1:17, dia membaca “orang benar akan hidup oleh iman”. Dia berhenti, merenung, dan ini menjadi momentum penting baginya melihat “pintu gerbang surga” terbuka lebar baginya.  

           Pertobatan Luther menghentarnya untuk melakukan berbagai macam terobosan, perlawanan, reformasi dan tindakan konkrit terkait kebocoran bahtera yang terjadi pada zamannya.  Gereja tidak dilihat lagi sebagai hirarki para pejabat gereja, tetapi komunitas orang-orang percaya. Dia melihat gereja sebagai organisme, yaitu tubuh yang hidup di mana setiap orang adalah anggotanya. Melihat gereja tidak lagi sebagai organisasi yang dibuat oleh para pejabatnya tetapi Kristus yang adalah Kepala yang berhak dan berotoritas untuk mengatur.

          Setelah 5 abad berlalu, tentunya gereja yang dianalogikan sebagai bahtera mengalami banyak perubahan konteks dan pergantian generasi. Berbagai upaya yang dilakukan oleh gereja untuk melakukan semper reformanda, namun tetap saja tidak sepi dengan tantangan dan gelombang. Disinilah gereja sebagai komunitas orang percaya memainkan perannya untuk terus berkarya dan dalam waktu yang bersamaan melakukan koreksi iman menuju labuhan yang telah disiapkan oleh Tuhan.

Apabila merujuk kepada syair NKB No. 111 yang bunyinya seperti di bawah ini:

Gereja bagai bahtera di laut yang seram
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Mengamuklah samudera dan badai menderu;
gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?

Reff

Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!

 

Hal tersebut memberikan perenungan yang mendalam buat kita sebagai gereja. Tentunya sejuta isu dan problematika gereja yang dapat digambarkan sebagai badai dan gelombang yang menghantam sebuah bahtera yang mengakibatkan kebocoran. Mungkin isu kekuasaan gereja yang terlalu liar dan dijalankan atas kehendak dan kontrol orang-orang tertentu. ataukah kehidupan moral yang tidak lagi dalam bingkai Injil. Kehidupan gereja yang saling membenci dan menyimpan akar kepahitan. Kehidupan gereja yang pasif dan diam serta tidak ada lagi suara kenabian yang terdengar. Penataan keuangan yang tidak terkontrol yang mengakibatkan hilangnya kepercayaan satu terhadap yang lain. Saling menghakimi seolah-olah kitalah orang yang paling benar. Kesombongan rohani yang melihat diri kita seolah-olah di antara sekian banyak orang, kitalah yang paling rohani. Bersembunyi di balik jubah pelayanan untuk membenarkan setiap pelayanan yang kita lakukan. Kekerasan hati yang sulit mengakui kalau apa yang kita lakukan sudah melukai banyak orang.

Tidak bisa dipungkiri, reformasi gereja memang telah melukai dirinya sendiri, namun hal tersebut dibutuhkan agar gereja kembali kepada jalan yang benar alias berlayar di di jalan yang Tuhan kehendaki. Ketika Marthin Luther melakukan sebuah terobosan, dia memastikan dirinya sebagai hamba yang clear dalam hal pertobatan dan imannya, seorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri bersama Tuhan. Tentunya dia bukanlah manusia sempurna namun dalam hal motivasi dan seluruh kehendaknya dipimpin dan dituntun melalui karya Roh Kudus

Oleh sebab itu sebuah pertanyaan reflektif hadir menyapa kita, apakah bahtera yang saat ini sedang membawa kita kepada Pelabuhan yang abadi sedang baik-baik saja? Ataukah sudah mulai bocor? Ataukah sudah bocor? Semuanya berpulang kepada kita sebagai anggota yang punya tanggung jawab iman untuk menjawabnya. Yang pastinya lagu NKB No. 111 mengundang kita untuk tetap meminta Pertolongan Tuhan, karena tanpa TUhan, kita semua akan binasa. Semoga Tuhan menolong gerejanya di tengah badai dan gelombang dan Roh Kudus senantiasa memberikan pencerahan dan kesejukan agar jiwa kita senantiasa mengalami keteduhan, walupun badai tidak berpindah.  amen 

No comments:

Post a Comment