“Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” Amos 3:3
Pada zaman dulu, konon sebuah perjalanan, memiliki teman yang merupakan hal yang baik. Berdua lebih baik daripada seorang diri. Mereka dimungkinkan saling menjaga dan membantu. Ketika beragam bahaya di tengah jalan menghadang mereka, mereka bisa saling menjaga. Meskipun demikian, mereka perlu memiliki beberapa kesamaan dan persetujuan. Paling tidak, mereka harus memiliki tujuan atau arah yang sama. Mereka saling cocok atau menyukai satu dengan yang lain. Mereka sepakat bahwa bepergian bersama-sama akan membawa keuntungan dan menambah kesenangan.
Dalam sebuah kesempatan Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa: “Betapa pentingnya bermimpi bersama. Sendirian, kita beresiko melihat fatamorgana, melihat apa yang tidak ada. Mimpi dibangun bersama. Marilah kita bermimpi sebagai suatu umat manusia, sebagai sesama pengembara yang memiliki raga manusia yang sama, sebagai anak-anak dari bumi yang sama yang menjadi tempat tinggal kita semua, masing-masing dengan kekayaan iman dan keyakinannya, masing-masing dengan suaranya sendiri, semuanya saudara dan.”
90 Tahun Gereja KIBAID, ibarat perjalanan dua orang selama 90 tahun pasti dipenuhi dengan dinamika, mungkin ada rasa bosan, kesal, marah, kecewa, sakit hati, kebimbangan, dan bahkan ada saat-saat, di mana masing-masing ingin mengambil jalan sendiri. Tidak dapat dipahami bahwa berjalan bersama-sama seperti masuk dalam sebuah ketegangan (tension) yang penuh dengan pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Begitupun juga dengan perjalanan sebuah gereja, baik itu secara organisasi, komunitas atau perkumpulan orang beriman pasti menghadapi tantangan untuk berjalan bersama-sama.
Namun Keteladanan Kristus menjadi role model bagaimana berjalan bersama murid-murid-Nya walaupun di tengah-tengah perbedaan. Yesus tetap fokus merangkul mereka dan memastikan bahwa semua orang yang berjalan bersama-Nya memiliki visi misi yang sama. Ketika ada jalan pikiran yang berbeda, maka Yesus akan menghafal dan memberikan arahan untuk kembali sejalan dengan-Nya. (band. Mat.16:23).
Oleh karena itu ketegangan-ketegangan dalam sebuah perjalanan bersama-sama perlu disikapi secara dewasa dan dalam bingkai etika Kerajaan Allah, karena Gereja bertumbuh dan berkembang disebabkan oleh semangat kebersamaan untuk berjalan bersama-sama. Setiap orang diberi kesempatan untuk menyampaikan refleksi atau gagasan sekecil apa pun, karena hal itu tidaklah buruk dipandang sebagai perjalanan iman untuk mewujudkan visi misi bersama dalam bingkai Kerajaan Allah. Ada yang mengatakan bahwa : Tidak ada orang yang terlalu kaya sehingga tidak bisa menerima sedikit dari orang lain, dan tidak ada orang yang terlalu miskin yang tidak bisa memberikan sedikit bagi orang lain.
Komunitas yang saling mendengarkan, saling menghargai pendapat dan menemukan Allah dalam menerima pendapat satu sama lain. Tidak bisa dipungkiri egosentris atau menganggap diri paling benar dalam setiap tingkatan organisasi, baik itu Sinode, Klasis, Lokal, bahkan Pos PI, menjadi sebuah kenyataan yang harus diakui dan perlu dipertemukan agar semangat berjalan bersama tidak pudar.
Gereja harus berani untuk berjalan bersama-sama, untuk bermimpi bersama, untuk bermimpi hadir di tengah tantangan untuk menemukan kebenanaran dan kehendak Allah. Ketika antusiasme ini mewarnai perjalanan Gereja KIBAID secara bersama-sama, maka pertanyaan masihkah Berjalan Bersama-sama akan menemukan jawabannya sendiri dalam perjalanan melintasi sejarahnya. Semoga di usia 9 dekade ini, Gereja KIBAID menampilkan semangat berjalan bersama-sama tanpa melihat apakah dia punya banyak atau sedikit, pejabat atau jemaat biasa, kuat atau lemah, populer atau tidak terkenal, daerah atau kota, banyak atau sepi, kecil atau besar. Kiranya semuanya terhisap dalam sebuah narasi besar Allah untuk menyelamatkan dunia dari dosa dan bukan untuk kepentingan siapa-siapa tetapi untuk Kepentingan Kristus yang adalah Kepala Gereja. (Oleh : Pdt.Jaffray Sandang)