Tuesday, 28 July 2015

Allah mencari yang sudah lalu

Allah mencari yang sudah lalu
Mengawali kesaksian ini, saya ingin mengutip firman Tuhan dalam Pengkhotbah 3: 14-15 yang berkata:  Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.  15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu. Melihat ke masa lalu bisa saja menjadi sesuatu yang baik, lucu, menakutkan dan bisa saja menyakitkan.  Dan bagi saya bersaksi merupakan salah satu pembelajaran, bahan evaluasi dan cara untuk mengucap syukur dalam melihat masa lalu, masa kini dan menatap masa depan supaya hidup yang saya jalani senantiasa seturut dengan rencana-rencana Tuhan.   Kebetulan ketika saya mempersiapkan kesaksian ini, saya mendapat sms dari salah seorang keluarga di Sulawesi mengabarkan bahwa Ayah teman saya sudah dipanggil ke Rumah Bapa di Surga. Ketika saya membaca sms tersebut pikiran dan hati saya langsung tertuju kepada ayah teman saya tesebut. Karena almarhum merupakan aktifis di gereja ketika saya masih Sekolah Minggu. Candaan beliau, pelayanan beliau, dan karya-karyanya masih teringat dalam pikiran saya.  Seandainya saya diberikan kesempatan untuk bertemu dengannya, saya akan mengucapkan terimakasih atas jerih payah dan karya-karyanya untuk perkembangan gereja yang ada di daerah saya. Hal ini secara tidak langsung membawa pikiran saya ke masa lalu mencari apa-apa saja yang baik yang perlu saya terus kerjakan menyangkut dengan karya pelayanan dari teman saya tersebut.
            Saya merasa hidup itu selalu mengalami pengulangan-pengulangan sehingga benarlah apa yang Tuhan katakan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada sesuatu yang baru (Pengkhotbah 1:9-10). Ketika saya memutuskan masuk di seminary di saat umur saya masih 17 tahun, bagi saya itu sesuatu yang baru.  Tetapi di mata gereja itu bukanlah hal yang baru karena sebelumnya sudah ada beberapa anak muda yang masuk seminary dari gereja asal saya. Apalagi di hadapan Tuhan, bagi Tuhan itu bukanlah sesuatu yang baru dan bukanlah berita yang mengagetkan bagi Dia.  Dalam pemahaman iman subjektif saya, Tuhan sudah mengatur hidup saya jauh sebelum saya diciptakan dan Tuhan sudah sekian tahun menunggu sampai saya memutuskan masuk ke seminary. ALLAH MENCARI YANG SUDAH LALU. 

            Seringkali mengenang masa-masa itu memiliki kekuatan dan penghiburan tersendiri ketika mengalami dinamika dalam pelayanan.  Benarlah sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “hamba Tuhan juga manusia”.  Saya pernah ingin lari dari pelayanan.  Seolah-olah ingin mengatakan bahwa ternyata saya salah mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan.  Tetapi ketika mengenang “masa lalu” saya ketika memutuskan menjadi hamba Tuhan, saya kembali dikuatkan.  Sepertinya momentum awal itu kembali berbisik dalam hati saya bahwa saya tidak akan bisa lari karena Tuhan pasti akan mengejar saya.  Mencari saat-saat yang sudah berlalu sepertinya cara Tuhan memproses saya.  Bagaimana hasrat dan passion saya untuk menjadi hamba Tuhan kembali disegarkan.  Dan saya percaya apa yang Paulus pernah katakan kepada jemaat di Filipi ““Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan bagiku”,  itulah yang Tuhan cari.  Harapan dan doa saya apa yang Tuhan cari dalam hidup saya yang sudah lalu, kini dan ke depannya,  kiranya akan Dia dapatkan sampai ajal menjemputku kelak.  Amen. 

Sunday, 13 May 2012

Mengenal Tuhan

Mengenal Tuhan
Mazmur 13: 1-6

Kita bisa mengenal Tuhan dengan berbagai cara/aspek, misalnya kita bisa mengenal kebaikan Tuhan di dalam kelancaran hidup kita atau di dalam kemujuran kita atau kemakmuran kita, Tetapi kita juga bisa mengenal Tuhan di dalam masa-masa penderitaan/ kesusahan. Waktu kita di dalam lembah maut kita bisa mengenal Tuhan.  Mazmur Daud juga memberikan pelajaran di dalam dia mengenal Tuhan di dalam masa-masa penderitaan/kesulitan.
Kita bisa melihat mazmur hanya 6 ayat, 2 ayat di depan memberikan ,,4 kali Daud berkata, berapa lama lagi ? Atau sampai kapan ? pertanyaan ini memberikan indikasi bahwa Daud sedang  menunggu.  Dalam keadaan stress, sedih dan penderitaan, Daud berkata demikian.  Sepertinya Daud sedang sakit. Dalam ay.4 dikatakan supaya matanya bercahaya dan tertidur. Daud lagi tidak enak badan dan dalam keadaan sakit. Kita tidak tahu sakit apa.   Dia juga berada di dalam tekanan musuh (ay. 3).  Berapa lama lagi harus di bawah musuhnya?  Daud juga merasakan Tuhan sudah buang dia, atau Tuhan seperti mengesampingkan dia. Dia berada di dalam tertekan.  Waktu kita di dalam keadaan sengsara kadang kala kita perlu mencari teman untuk menceritakan kesusahan kita.  Kadangkala kita menemukan konselor, dia belum memberikan solusi tetapi karena dia mendengar makanya kita bisa menemukan pencerahan.  Kadang kala di dalam curhat itu kita bisa menemukan perspektif yang baru.  Kebanyakan orang yang mengalami kesusahan memiliki penglihatan yang pendek. Seperti peristiwa Maria ketika menyaksiakn kebangkitan Kristus.  Kadangkala kesedihan membuat penglihatan kita begitu pendek.  Kita perlu mencari orang untuk curhat.  Tetapi kadangkala kita tidak bisa mendapatkan apa-apa dari manusia.  Tetapi ketika kita menceritakan isi hati kita kepada Tuhan kita bisa mendapatkan sukacita. 
Mazmur ini tidak diketahui kapan ditulis apakah sebelum menjadi raja atau sesudah menjadi raja.  Akhir dari doa ini Daud sudah bisa menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan (ay 6).  Bukankah di depan dia sudah menyatakan kesusahannya.   Bagaimana  dengan kita, pengaharapan kita kepada siapa? Bagi Daud pengharapannnya hanya kepada Tuhan.  Itu akhir/penutupan dari doa Daud.  Kita juga bisa meneladani Daud, mengutarakan perasaan kita kepada Tuhan.  Katakan kepada Tuhan apa yang kita alami, dan Tuhan akan mememulihkan kita dan mengembalikan kepda prospek yang baik dan mendapatkan kembali perspektif yang benar.  Kadangkala  di dalam kesulitan kita tdk bisa melihat dengan tepat. Tetapi setelah kita mencurahkan isi hati kita akhirnya kita bisa mendapatkan kembali apa yang benar di dalam kehendakNya dalam posisi yang tepat. 
Manusia siapa saja bisa mengalami pesimis di dalam menghadapi sakit atau penderitaan.  Kadangkala bawaannya pesimis, seperti saya juga mengalami pesimis ketika saya sakit. Itulah manusia di dalam ketidakmujuran kita bisa merasa pesimis alias tidak kelihatan ke depan/error.  Kita tidak bisa melihat dengan tepat. Makanya kita datang kepada Tuhan, mengembalikan pengharapan itu yang mendatangkan damai sejahtera. 
Ada banyak ketidakadilan di negara kita dan di berbagai belahan negara lain walaupun dalam taraf yang berbeda-beda.  Ada banyak hal dosa dan kesusahan yang kita alami, ada bencana alam dan juga bencana ulah manusia.   Waktu zaman nabi habakuk ,para petinggi melakukan kejahatan dan ketidakadilan, Habakuk bertanya kepada Tuhan , why? Why and why?.  Kemudian Tuhan memakai orang Babilon dan Kasdim untuk menghukum orang Israel. Tuhan bisa memakai siapa saja termasuk orang yang jahat sekalipun untuk menggenapi rencana-Nya.  Tetapi Tuhan memberikan ilham kepada habakuk bahwa suatu saat Tuhan akan membuat perhitungan kepada bangsa yang menindas Israel.  Sehingga di akhir tulisan/doa Habakuk memberikan perspektif yang baru (hab. 3: 17-19) Habakuk menghadapi masa paceklik dalam berbagai aspek.  Tetapi Habakuk tetap besorak2 di dalam Tuhan walaupun situasi belum berubah tetapi hal itu menjadi turning point bagi Habakuk untuk berharap kembali kepada Tuhan.   Suasana hati/mood Habakuk berubah sehingga matanya kembali bersinar walaupun situasi tidak berubah.  Habakuk memandang ke depan karena Tuhan adalah penyelamatnya dan kekuatannya.  Tuhan mendampingi dia untuk melewati masa2 kesusahan. Mengenal Tuhan di dalam kesusahan. Orang yg tidak pernah susah bagaimanapun tuanya dia biasanya belum matang. Situasi belum berubah tetapi hati Habakuk sudah berubah. Regain the right perspektif.
Daud complain kepada Tuhan, seolah-olah Tuhan begitu slow dalam memulihkan Daud.  Kadangkala ketika kta mendoakan orang jahat kita mau supaya segera Tuhan segera melenyapkan  mereka.   Ada orang yang ketika mengalami penderitaan, menganggap Tuhan tidak jitu lagi.   Daud ditempa didalam proses.  Daud merasa Tuhan terlalu lambat dalam menyatakan pertolongannya kepadanya.  Terus bertanya, bertaya dan bertanya.  Do something for me, God!.  Saya tidak tahu apakah ini merupakan perasaan kita sekarang? Kadang kala kita tidak punya kesabaran dalam menghadapi kejahatan.  Kita bertanya kapan kejahatan akan berakhir?
Daud dari pengurapannya sampai duduk di atas tahta mengalami proses yang sangat panjang, belasan tahun dia melewati proses itu.  Tuhan yang adil  mengangkat Daud di dalam menghadapi kesusahan dari Saul.  Walaupun setelah Daud berada di atas tahta, dia jatuh ke dalam dosa seks, dan setelah itu pedang dan air mati tidak pernah lepas dari kehidupan Daud.  Walaupun dosanya diampuni oleh Tuhan tetapi konsekuensi dari perbuatannya harus dijalani.   Penderitaan Daud datang dari dalam orang2 dekatnya. Mertuanya jahatin dia, anaknya, pejabatnya, penasehatnya menjahati dia.  Kadang kala penderitaan diakibatkan oleh orang yang terdekat dengan kita  atau pun dari diri kita sendiri akibat dosa yang dilakukan. 

Kesimpulan
Konklusi tulisan/doa pemazmur  adalah berkenan di hati Tuhan, sehingga dia bisa meyakinkan bahwa dia bisa bersandar kembali  kepada Tuhan.  Mzm 13 berhenti di dalam ayat 6.  Di dalam penderitaan kita bisa mengenal bahwa Tuhan itu baik.  Kadangkala  dalam penderitaan iman kita ditempah, kita bisa mengalami keadilan Tuhan, kuasa Tuhan.  Kita harus mengalami Tuhan, kita mengenal Tuhan bukan karena perkataan orang lain, tetapi karena perkataan kita karena kita sudah mengalami Tuhan.  Iman yang real dan bukan iman atas kata orang. Amen

Thursday, 13 October 2011

Book Review James W.Thompson

Book Review “Pastoral Ministry According To Paul” James W. Thompson: Baker Academic, Grand Rapids, Michigan, 2006

Buku Pastoral Ministry According To Paul yang dikarang oleh James Thompson merupakan salah satu referensi buku pegangan bagi seorang pelayan yang terlibat dalam pelayanan pastoral, khususnya Penulis membawa pembaca untuk mendalami bagaimana Paulus dalam mendefinisikan, menyikapi dan melakukan pelayanan pastoral itu sendiri kepada jemaat-jemaat yang dilayani. Buku ini dibagi dalam lima bab, di mana setiap bab memberikan beberapa gambaran pelayanan Paulus kepada beberapa jemaat yang pernah dikunjungi atau pernah mendapatkan surat penggembalaan dari Paulus sendiri.

Dalam Bab I, Penulis membawa kita untuk lebih mendalami dan menemukan rumusan pemikiran Paulus dalam memahami pelayanan penggembalaan, yang meskipun penulis menyadari untuk menemukan suatu pemahaman Paulus tentang pelayanan penggembalaan tidaklah mudah karena kita diperhadapkan kepada beberapa faktor, misalnya : 1) kita tidak menemukan satu defenisi yang baku tentang pelayanan penggembalaan Paulus. 2) Rekan-rekan sekerja Paulus kadangkala tidak sejalan dengan konsep pelayanan Paulus. 3) Kita menghadapi tantangan hermeneutik dengan pelayanan Paulus dalam konteks/zaman sekarang. Kemudian dalam bab ini kita diperhadapkan juga dengan beberapa pandangan-padangan para teolog menyangkut dengan Teologi penggembalaan menurut Paulus.

Dalam Bab II, Penulis memaparkan tentang penggembalaan Paulus kepada Jemaat di Filipi dan Tesalonika, di mana kedua jemaat tersebut memiliki situasi dan kondisi yang berbeda. Beberapa hal yang menjadi penekanan Paulus dalam menggembalakan jemaat melalui surat yang ditulisnya yaitu, supaya jemaat di Filipi tetap memelihara kesatuan dan tetap sukacita dalam menjalani hidup. Di mana hal ini menjadi salah satu kekuatan jemaat untuk mengalami pertumbuhan dan perubahan yang dikerjakan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Paulus dalam pelayanannya kepada jemaat Filipi memberikan keseriusannya dalam hal dia berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan dan memberikan kasihnya kepada jemaat. Dan Paulus menasehati jemaat Filipi supaya tetap berdiri bersama-sama dalam melewati akan tantangan dan perjuangan kehidupan. Paulus juga senantiasa membawa jemaat di Filipi untuk berpikir dalam kekekalan, bahwa sesungguhnya suatu saat dalam kedatangan Kristus yang kedua kali mereka akan diubah dalam tubuh kemuliaan.

Kemudian Penulis memaparkan tentang Pelayanan Paulus kepada Jemaat di Tesalonika. Di awal suratnya dia menjelaskan bahwa sesungguhnya pelayanannya itu bukan didasarkan kepada kekuatannya sendiri tetapi berdasarkan kuasa Roh Kudus. Paulus adalah model dari perubahan yang dijalani oleh jemaat di Tesalonika, seperti dia berbagian dalam penderitaan Kristus, dia menyangkal kepentingannya sendiri dan membagikan kuasa dari kebangkitan Kristus, mempersembahkan sebuah perubahan hidup dalam hal bersikap dan juga ia mengharapkan perubahan itu terjadi di dalam jemaat Tesalonika

Gambaran Paulus mengenai kehidupan jemaat bahwa hidup antara zaman sekarang dengan Karya Allah dalam menetapkan hari kedatangan Kristus nampaknya ini yang menjadi pusat teologi penggembalaan, hal ini bisa dilihat dalam surat Paulus kepada Jemaat di Filipi dan Tesalonika untuk membangun gereja.

Dalam Bab III, Penulis memaparkan tentang Surat Galatia yang menjadi jawaban dalam menghadapi pergumulan zaman khususnya dalam konteks sekarang. Penulis mengambil persoalan tentang pemahaman Paulus tentang anthropology dan Problema perubahan yang terdapat di dalam Jemaat Galatia. Misalnya jemaat di Galatia mendapat pemahaman bahwa melakukan hukum Taurat dapat menyelamatkan. Kemudian masih ada di antara mereka yang hidup dalam kedagingan atau kembali kepada masa lalu mereka. Penulis juga menggambarkan situasi jemaat di Galatia yang banyak menentang pemahaman jemaat yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Paulus berbicara tentang buah-buah Roh sebagai salah satu kekuatan dalam membangun kehidupan berjemaat

Dalam Bab IV, Penulis membahas surat Paulus kepada Jemaat di Roma, di mana surat ini sarat dengan pengajaran-pengajaran yang kelak menjadi dasar teologi Paulus. Teologi pastoral di Roma adalah bukti keterkaitan antara artikulasi misinya dengan argument suratnya, di mana yang direncanakan untuk mendukung kerinduan besar Paulus, yaitu memberitakan Injil di kota Roma. Teologi Paulus dalam surat Roma memasukkan tidak hanya penerimaan orang berdosa tetapi juga pemulihan kepada orang berdosa yang hidup dalam iman. Jadi melalui Yesus disalib Allah telah mengalahkan dosa. Melaui surat Roma Paulus memberikan sebuah framework yang harus dijalani oleh jemaat di Roma kalau mereka mau mengalami perubahan-perubahan di dalam Kristus

Dalam Bab V, Penulis membahas tentang Membangun jemaat yang didasarkan pada surat Paulus kepada Jemaat di Korintus. Khusus dalam surat Paulus yang kedua kepada Jemaat di Korintus, dia menghadapi orang-orang yang meragukan kerasulannya, mereka memfitnah Paulus, tetapi Paulus tetap tegar dan malah memberikan sebuah pembelaan disertai bukti keteladanan hidup Paulus. Hal inilah yang menjadi power pelayanan Paulus dan menjadi kesaksian hidup bagi jemaat.

Dalam Bab yang terakhir Penulis memberikan sebuah konklusi model pelayanan Paulus yang bisa diterapkan dalam masa kini, antara lain :

1. Orientasi pelayanan Paulus melihat kehidupan yang akan datang (eskatology)

2. Penekanan pelayanan Paulus adalah kepada kehidupan formasi spiritual yang menjadi salah satu penentu perkembangan pelayanan pastoral yang terus mengalami progresif

Moralitas kehidupan gereja harus terus mengalami perubahan secara kontinyu, tugas gereja tidak hanya menerima anugerah Allah, tetapi juga menyatakan pembenaran di dalam Kristus karena dosa tidak lagi berkuasa.

Kemudian salah satu penegasan penulis dalam strategi pelayanan pastoral yang ditawarkan dalam bab terakhir adalah: Pengajaran yag kontinyu menjadi pusat dalam mendirikan jemaat yang terus mengalami pertumbuhan

Melalui buku ini ada banyak pemikiran-pemikiran khususnya menyangkut teology Paulus dalam sumbangsihnya kepada pelayanan pastoral dalam konteks masa kini. Misalnya ketika Paulus menulis suratnya kepada jemaat-jemaat atau langsung terjun ke medan pelayanan, Paulus menyesuaikan konteks tempat pelayanannya. Dalam hal ini Paulus melayani dan menjawab apa yang menjadi kebutuhan jemaat, misalnya jemaat di Korintus menghadapi masalah perselisihan antara golongan-golongan yang terjadi di dalam jemaat. Hal ini bisa diselesaikan oleh Paulus, sehingga persoalan yang terjadi tidak merusak kehidupab berjemaat. Oleh sebab itu prinsip pelayanan penggembalaan paulus dalam surat Korintus dapat menjadi model bagi para gembala, karena persoalan yang terjadi di jemaat Korintus merupakan persoalan klasik yang terjadi di banyak gereja sekarang. Kemudian juga ketika Paulus menghadapi akan para penentangnya, khususnya kepada mereka yang tidak setuju dengan pekerjaan Paulus untuk menebarkan Injil, hal ini dijalani Paulus dengan sabar dan senantiasa memberikan kasih kepada mereka. Tentunya keteladanan ini menjadi bagian penting dalam kehidupan para pelayan untuk menghadapi setiap para penentang kita dengan sabar dan penuh kasih, supaya mungkin dengan jalan seperti itu mereka juga boleh menerima Kristus sebagai Tuhn dan Jurselamat.

Melalui buku ini juga, kita dibawa untuk memahami apa yang menjadi dasar-dasar/prinsip-prinsip penggembalaan Paulus, khusunya ketika Paulus berbicara tentang perubahan hidup yang menjadi salah satu indicator pertumbuhan dan perkembangan gereja, yang tentunya perubahan itu didasarkan kepada pekerjaan Yesus Kristus.

Buku ini juga telah memberikan sebuah eksposisi dari beberapa surat Paulus yang telah dijelaskan dari pasal ke pasal, yang tentunya hal ini menjadi sumbangan yang baik dalam pelayanan Pastoral sebagai arahan dalam menghadapi berbagai problematika baik itu menyangkut jemaat maupun gembala itu sendiri.

Penulis juga memberikan penekanan secara tidak langsung bahwa ternyata dalam penggembalaan Paulus tidak pernah terlepas dari pokok-pokok iman Kristen atau doktrin-doktrin iman Kristen di mana hal ini menjadi kekuatan besar untuk menuntun jemaat dalam menghadapi berbagai macam pemikiran-pemikiran yang berkembang. Kemudian perlunya senantiasa mengupdate akan metode-metode pelayanan yang kita pakai, karena setiap metode tidak selalu tepat dan efektif untuk setiap zaman.

Friday, 18 March 2011

PANDANGAN JOHN CALVIN : “PENGETAHUAN TENTANG ALLAH DAN DIRI KITA SENDIRI”

PENDAHULUAN

Setiap manusia pasti memilki keinginan untuk mengetahui segala sesuatu dan inilah yang menjadi salah satu natur manusia yaitu “ingin mengetahui sebanyak-banyaknya”. Manusia ingin mengetahui yang benar dan salah, mengetahui tujuan akhir hidupnya, ingin mengetahui bagaimana berkonstribusi secara berarti dengan kemampuan yang dimiliki. Manusia ingin mengetahui bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri. Oleh sebab itu berbagai cara yang dilakukan manusia untuk mencari tahu segala sesuatu.

Manusia pun mencari tahu sesuatu yang tertinggi dari luar dirinya sendiri. Segala sesuatu dilibatkan dalam mencari tahu yang tertinggi itu, misalnya dengan pendekatan logika, filsafat, sains, hermeneutik, empiris dan lain-lain. Tetapi ternyata pendekatan itu tidak sepenuhnya memberikan kepuasan kepada manusia yang ingin mencari tahu sebuah kebenaran.

Jadi pertanyaan tentang “pengetahuan” memenuhi pemikiran umat manusia dalam sepanjang sejarah. Seorang reformator gereja yang bernama Joh Calvin mempersembahkan sebuah maha karya yang biasa dikenal dengan “Institutes”. Melalui buku ini Calvin mengarahkan setiap pembaca untuk melihat segala sesuatu dari kacamata yang benar. Karya Calvin tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap sejarah perjalanan gereja bahkan dunia sekalipun. Oleh sebab itu keberadaan Calvin sebagai tokoh besar tidak bisa diragukan lagi, yang walaupun bersamaan dengan itu tentunya dia juga memiliki sisi-sisi kelemahan.

Melalui paper ini akan membahas apa yang menjadi pemikiran Calvin ketika berbicara mengenai “pengetahuan tentang Allah dan diri kita sendiri”. Mengapa Calvin membahas kedua pengetahuan tersebut? Apakah signifikansinya terhadap kehidupan umat Kristen dan bagaimana Calvin merumuskan dan memformulasikan dalam suatu karya tulis? Kiranya melalui paper ini akan memberikan sebuah ulasan singkat mengenai pemikiran Calvin dan tentunya yang lebih penting dari semuanya itu mengarahkan kita untuk lebih mengasihi Tuhan dalam segala aspek hidup kita.

I. RIWAYAT SINGKAT JOHN CALVIN

Johannes Calvin lahir pada tanggal 10 Juli 1509 sebagai Jean Cauvin di kota Noyon, Perancis Utara dari seorang ayah yang bernama Gerard Cauvin dan ibunya Jeanne Lefranc. [1] Dari pernikahan mereka melahirkan empat anak laki-laki, Charles, Jean, Antonie dan Francois dan dua anak perempuan, Marie dan satu lagi yang tidak diketahui namanya. [2] Calvin berumur 14 tahun ketika ibunya meninggal dan bersamaan dengan waktu itu ia dikirim ke Universitas Paris untuk menempuh pendidikan keimaman. Di sana ia mendapat gelar Bachelor of Arts pada usia 19 tahun (1528). Namun sejalan dengan waktu ayahnya terlibat konflik dengan uskup sehingga Calvin diarahkan untuk mengambil sekolah hukum di Universitas Orleans (1528-1529) dan di Universitas Bourges (1529-1531) dan dia berhasil mencapai gelar doktor dalam bidang hukum pada umur 22 tahun.

Mengenai pertobatan Calvin tidak banyak dijumpai, namun Lucas Lukito mengutip beberapa sumber yang mengatakan bahwa[3] :

Kebanyakan literatur kurang jelas menguraikan tentang pertobatan atau pengenalan Calvin pada Allah yang benar. Umumnya pengalaman khusus tersebut hanya dinyatakan dengan sebuah ungkapan Latin: subita conversione (by a sudden conversion; melalui pertobatan yang tiba-tiba). Walaupun dalam pengalaman pertobatannya ia jarang menyebut nama Tuhan Yesus, pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang radikal dalam kehidupannya. Pada bagian “Pendahuluan” dari tafsiran Mazmurnya yang ditulis tahun 1557, ia mengungkapkan bahwa: “God by a sudden conversion subdued and brought my mind to a teachable frame.” Hal ini tidak berarti pengalaman tersebut begitu dahsyat seperti pengalaman Rasul Paulus di jalan menuju ke Damsyik. Lebih tepat bila dikatakan bahwa pertobatannya berkaitan dengan sebuah perpalingan hati kepada Allah yang berdaulat dan ia mengaku bahwa Allahlah yang berinisiatif menghampirinya .

Sekitar bulan Maret 1536 Calvin menyelesaikan karya tulisnya yang sangat melimpah, The Institutes of Christian Religion (sering disingkat Institutio) yang paling banyak dikenal orang dan sering disebut sebagai tulisan teologi Calvin yang paling komprehensif. Mc Neill mengatakan bahwa Institutio Calvin merupakan salah satu buku yang secara luar biasa mempengaruhi jalannya sejarah.[4] Pada tahun 1539 Calvin menerbitkan Institutio edisi ke-2, kemudian pada tahun 1543 Institutio edisi ke-3 terbit, kemudian pada tahun 1550 edisi ke-4 terbit dan edisi final terbit pada tahun 1559. Namun sejalan dengan waktu Calvin tidak hanya menuangkan pemikirannya dalam bentuk instituo tetapi juga dalam bentuk commentary, surat kepada pemimpin gereja dan masih banyak lagi. Oleh sebab itu ketika membahas pemikiran Calvin tidak hanya bersumber dari instituo tetapi bersumber dari tulisan-tulisan yang lain juga.

Setelah melewati pergumulan yang panjang akhirnya pada bulan Agustus 1540 Calvin menikahi seorang janda yang bernama Idelette de Bure yang telah mempunyai dua orang anak. Namun pernikahan mereka hanya berlangsung kurang lebih 10 tahun, di mana Idelette meninggal pada tahun 1549 dan setelah itu Calvin tidak pernah menikah lagi dan akhirnya pada tanggal 27 Mei 1564, Calvin meninggal pada usia 54 tahun. Walaupun meninggal di usia yang masih relatif muda, namun maha karya Calvin tetap bersinar oleh karena didasarkan kepada Alkitab.


II. PENGETAHUAN TENTANG ALLAH

Salah satu konstribusi yang begitu agung yang diletakkan oleh Calvin dalam Institutionya adalah ketika dia mengawalinya dengan mengatakan bahwa “our wisdom,insofar as it ought to be deemed true and solid wisdom, consist almost entirely of two parts : the knowledge of God and of ourselves”. [5] Apa yang menjadi tesis calvin ini tentunya memiliki kedalaman yang sangat siginifikan dengan tesis-tesis berikutnya. Boleh dikatakan bahwa hal ini bagaikan sebuah corong untuk lebih mengenal apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh Calvin. Calvin secara tegas mengatakan bahwa sesungguhnya jikalau kita memiliki hikmat berarti kita seharusnya memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah dan diri sendiri, seperti yang dikatakan bahwa “it is certain that man never achieves a clear knowledge of himself unless he has first looked upon God’s face, and then descends from contemplating him to scrutinize himself” [6]. Dengan kata lain apa yang dimaksudkan oleh Calvin bahwa tak seorang pun dapat melihat kepada dirinya sendiri tanpa dengan segera mengalihkan pemikiran-pemikirannya kepada perenungan akan Allah. Adalah hal yang pasti bahwa manusia tidak pernah mencapai suatu pengetahuan yang jelas tentang dirinya sendiri kecuali ia terlebih dahulu melihat kepada wajah Allah dan kemudian turun ke dalam perenungan tentang Tuhan untuk meneliti dirinya sendiri. Hal ini mendapat penegasan lagi ketika Calvin mengatakan bahwa:

The first ought to show us not only that there is only one God whom all must worship and honor, but also that the same one is the fountain of all truth, wisdom, goodness, righteousness, judgment, mercy, power, and holiness, so that we may learn to expect and ask everything from Him, and also to acknowledge with prise and thanksgiving that all these things come from Him. The second part, by showing us our weakness,wretchedness, futility, and greed, leads us to feel cast down about and to distrust and hate ourselves; and thend kindles in us desire to seek for God, since in Him lies all the good of which we are empty and naked.[7]

Tentunya bagi Calvin konsep pengetahuan tentang Allah merupakan sebuah konsep yang mendasar di mana melalui konsep itu ia bermaksud untuk membawa konsep-konsepnya yang lain ke dalam fokus. Memang apa yang dituliskan Calvin bukan berarti sesuatu yang benar-benar baru, karena apa yang diungkapkan sebenarnya para pendahulunya sudah membahasnya juga, tetapi Calvin meletakkan di point yang pertama tentunya memiliki argument tersendiri dan yang pastinya mendapatkan banyak penekanan. Seperti yang dikatakan oleh John Frame bahwa Calvin mengakui bahwa pengetahuan akan Allah sebagai satu perspektif yang penting yang dapat membantu kita memahami seluruh Alkitab, sebuah sarana yang bermanfaat untuk menyimpulkan seluruh berita Alkitab serta menjadi kunci khusus untuk bidang pengajaran Alkitab tertentu. [8]

Kalau demikian sesungguhnya apakah yang dimaksudkan oleh Calvin ketika berbicara tentang pengetahuan akan Allah? Francois Wendel mengatakan bahwa

Di sini kita tidak berfokus pada spekulasi-spekulasi rasional tentang eksistenti atau natur Allah, sebab Calvin mengatakan “apa yang kita pikirkan tentang Allah, yang berasal dari diri kita sendiri, hanyalah sebuah kebodohan dan semua yang dapat kita katakan tentang Dia adalah tanpa isi. Di samping itu, kita tidak mungkin mengetahui esensi Allah: Adalah sebuah kesia-siaan untuk bertanya “Apakah Allah itu?”. Esensi Allah sedemikian tidak terselami sehingga kemuliaan-Nya tersembunyi, jauh dari semua indra kita. [9]

Calvin mengarahkan kepada setiap pembaca bahwa manusia tidak punya argumen yang kokoh untuk mengetahui akan Allah selain Allah sendiri yang menyatakannya. Seolah-olah Calvin mengatakan bahwa tidak ada argumen yang betul-betul sempurna untuk membuktikan keberadaan Allah kecuali mengawali semuanya pengetahuan kita dari Allah, sehingga dengan itu kita bisa mengetahui atau mengenal keberadaan Allah. Oleh sebab itu Calvin mengatakan bahwa kita mengenal Allah, bukan hanya ketika kita mengerti bahwa Allah ada, tetapi ketika kita mengerti apa yang benar untuk kita pahami mengenai Dia, apa yang menyatakan kemuliaan-Nya atau singkatnya apa yang bermanfaat. Sebab tepatlah kita tidak dapat mengatakan bahwa Allah telah dikenal ketika tidak ada agama atau kebajikan. Sebab apakah gunanya kita mengakui bersama kaum Epicurean bahwa ada semacam Allah yang karena tidak perlu memerintah atas dunia, maka berkanjang dalam kesia-siaan? Seharusnya pengetahuan yang kita miliki tentang Allah mengajar kita untuk mengharapkan segala yang baik dari-Nya dan memberikan puji-pujian kepada-Nya. [10] jadi apa yang Calvin maksudkan bukanlah pengetahuan yang abstrak yang bisa dideduksi dengan pemikiran para filsuf melainkan pengenalan tentang siapa Allah di dalam relasi kita.

Sebagaimana yang dikemukakan bahwa pemikiran Calvin tidaklah berdiri sendiri. Walaupun di awal tulisan institutionya sama sekali Calvin belum berbicara tentang otoritas Alkitab, namun bukan berarti Calvin tidak dipengaruhi oleh worldview Alkitab. Ia menegaskan bahwa

Cahaya terang yang tampak oleh mata manusia, di langit dan di bumi, lebih dari cukup guna meniadakan setiap pembelaan sikap manusia yang tak tahu berterimakasih itu. Dan memang Allah hendak mengemukakan keagungan-Nya yang dilukiskan dalam ciptaan-Nya itu kepada semua orang tanpa terkecuali, supaya seluruh umat manusia dilibatkan-Nya dalam kesalahan yang sama. Namun,diperlukan sarana lain yang lebih baik untuk membimbing kita kepada Pencipta dunia sendiri sebagaimana mestinya. Maka tidaklah sia-sia ditambahkan-Nya pula terang Firman-Nya, supaya mulai ada pengetahuan tentang Dia yang dapat membawa keselamatan. Hal itu merupakan anugerah istimewa, yang dikaruniakan-Nya kepada mereka yang ingin diterima-Nya lebih dekat dan lebih akrab kepada diri-Nya. [11]

Oleh sebab itu Calvin juga menjelaskan bahwa pengetahuan manusia tentang Allah sebatas Allah sebagai Pencipta di mana manusia sebagai ciptaan. Sebagai ciptaan manusia tidak akan pernah mengenal Allah secara sempurna dan juga segala pemikiran atau teologi yang dibangun adalah teologi yang sangat terbatas kepada ciptaan. Jadi peranan Alkitab dalam memagari atau menuntun Calvin sangat kental sekali. Hal itu ditegaskan oleh dia yang mengatakan Scripture is needed as guide and teacher for anyone who would come to God the Creator.[12] Dengan demikian sangat jelas sekali bahwa Calvin sangat menjunjung tinggi otoritas Alkitab yang menjadi penuntun untuk mengenal kebenaran yang sejati.

Patut disadari bahwa pengetahuan kita tentang Allah bisa didapat melalui wahyu umum yaitu alam semesta. Tetapi hal itu tidaklah cukup tanpa penyataan khusus dari Allah melalui firman-Nya. Alkitab mendapatkan otoritas dari dirinya sendiri, seperti yang dikatakan Calvin bahwa: Scripture has its authority from God, not from the Church. [13] Jadi gereja berada di bawah tuntunan atau penyertaan Alkitab, seperti yang dikatakan lagi bahwa :

For it chritian church was from the begininning founded upon the writings of the prophets and the preaching of the apostles, wherever this doctrine is found,the acceptance of it without which the church itself would never existed-must certeanly have preceded the church. Scripture exhibits fully as clear evidence of its own truth as white and black things do of their color, or sweet and bitter things do of their taste.[14]

Sesungguhnya gerejapun harus tunduk kepada otoritas firman Tuhan, apalagi berbicara secara general tanpa Alkitab mereka akan mengalami kesesatan. Oleh sebab itu Calvin membagi pengetahuan tentang Allah atas dua bagian yaitu pengetahuan yang bersifat universal dan pengetahuan yang bersifat khusus (berdasarkan wahyu). Melalui dua bagian ini Allah berbicara kepada manusia yang berdosa supaya mereka mengenal akan kebenaran itu, namun manusia menyia-nyiakan penyataan itu. Francois mengatakan bahwa

Untuk megenal Allah seseorang tidak dapat hanya membaca atau mempelajari Alkitab dengan cara sama seperti ketika ia membaca atau mempelajari buku-buku lainnya. Pembelajaran semacam itu hanya akan membawa kita kembali pada doktrin-doktrin yang murni berasal dari manusia, sehingga kita sebenarnya hanya kembali dengan jalan memutar, pada spekulasi-spekulasi yang ditolak oleh Calvin yang menemukan contoh-contoh yang mencolok pada filsuf-filsuf profane. Untuk membaca kita suci, menurut kondisi-kondisi yang diperlukan untuk mendapatkan penyataan Allah berikan kepada kita di dalam kitab-kitab itu, kita harus mendekatinya dengan hati yang baru. Dengan kata lain kita harus memiliki iman. Dan ini bagi Calvin sama artinya dengan mengatakan bahwa misteri-misteri tentang Allah hanya dimengerti oleh orang-orang kepada siapa hal tersebut dinyatakan. [15]

III. PENGETAHUAN TENTANG DIRI KITA SENDIRI

Sebagaimana yang dijelaskan dari awal bahwa hikmat yang sejati tidak hanya ketika kita mengenal Allah saja, tetapi kita harus juga mengenal siapa diri kita di hadapan Allah. Seperti apa defenisi kita tentang diri kita sendiri seperti itulah cara kita memandang tentang kebenaran Allah. Oleh sebab itu sebenarnya pengetahuan akan Allah dan diri sendiri bagaikan mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena masing-masing memiliki substansi yang saling terkait satu sama lain. Tentunya yang menjadi pertanyaan kita di sini, siapakah “diri kita sendiri”? Calvin mengatakan bahwa : We have already noted that the knowledge of God ought to have the effect of planting in our hearts some seed of religion. First in order to teach us to fear and revere God; and then in order to teach us that we must seek all good Him, and that we owe Him gratitude for that good.[16] Kemudian Dowey juga mengatakan bahwa God reveals himself to man internally by a direct perception of which Calvin distinguishes two elements: the sense of divinity, and the conscience.[17]

Sesungguhnya setiap manusia telah dikaruniakan benih ilahi kepada mereka untuk mengenal Tuhan, yang walaupun hal tersebut tidak bersifat redemptif. Tetapi dari hal ini tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bersykur kepada Tuhan. Namun dalam kenyataannya berbeda sekali. Calvin kembali menegaskan bahwa:

Maka nampaklah di sini sifat yang keji yang tak mau berterima kasih pada manusia. Mereka merasakan betapa indahnya Allah bekerja di dalam diri mereka, dan dari pengalaman mereka diajar betapa beragamnya anugerah yang mereka peroleh dari kemurahanNya. Mereka terpaksa mengetahui, apakah mereka mau atau tidak, bahwa ini merupakan tanda-tanda keilahian; namun mereka memendamnya dalam-dalam. . . . Mereka tidak mau mengatakan bahwa mereka secara kebetulan saja berbeda dari binatang bebal. Tetapi mereka menyalahgunakan pengertian “alam” dengan berdalih seolah-olah alam menjadi pembuat dan penguasa segala sesuatu, dan dengan demikian mereka menyingkirkan Allah.[18]

Jadi dari hal tersebut di atas menggambarkan bahwa sesungguhnya benih ilahi itu bisa berfungsi dalam meresponi alam semesta, tetapi manusia tidak mau melakukan itu karena kesombongan dan kekerasan hati mereka. Kemudian Calvin mengatakan lagi bahwa:

Sudah tak dapat disanggah lagi bahwa manusia menyimpan dalam hatinya suatu kesadaran akan adanya Allah. Hal ini malah merupakan gerak hati yang wajar. Sebab supaya tak ada yang berdalih tidak tahu, Allah telah menempatkan dalam hati kita semua suatu pengetahuan akan diri-Nya, dan pengetahuan itu sewaktu-waktu dihidupkan-Nya kembali dalam ingatan kita. Dia memberikannya setetes demi setetes, sehingga bila kita tanpa kecuali mengeyahui bahwa Allah ada, dan bahwa Dialah yang telah membentuk kita, kita terhukum oleh kesaksian kita sendiri, karena kita tidak memuja-Nya dan tidak mengabdikan hidup kita untuk menuruti kehendak-Nya. Seperti dikatakan seorang bukan kristen “Betapa biadabnya bangsanya,Betapa kasar dan buas pun sukunya, tetapi berakar juga keyakinan di dalamnya bahwa Allah ada”. Mulai dari awal dunia tak pernah ada negeri atau kota ataupun rumah tangga yang dapat hidup tanpa beragama. Hal itu merupakan suatu pengakuan terpendam bahwa kesadaran akan adanya suatu Allah tertera dalam hati semua orang. [19]

Sesungguhnya manusia mempunyai potensi dalam meresponi kasih karunia-Nya, tetapi sekali lagi dalam kenyataannya Calvin mengatakan bahwa :

As experience shows,God has sown a seed of religion in all men. But scarcely one man in a hundred is met with who fosters it, once received, in his heart, and none in whom it ripens-much less shows fruit in season. Besides while some may evaporate in their own superstitions and others deliberately and wickedly desert God, yet all degeneratenfrom the true knowledge of him. And so it happens that no real piety remains in the world. [20]

Calvin tidak sedang mengatakan bahwa kita tahu bahwa ada suatu rasa keilahian karena kesaksian universal untuk hal seperti itu. Tetapi ia mengatakan bahwa kesaksian universal itu merupakan suatu pengakuan yang tak diucapkan yang membuktikan kalau posisi Alkitab yang dikemukakan oleh Paulus itu benar (Rm 1:18). Kesaksian universal dalam pengertian ini,mendukung kebenaran bukan membentuk kebenaran. Penyembahan berhala dalam segala bentuknya, menurut Calvin adalah bukti yang cukup bahwa sensus divinitas ini ditanamkan dalam kita semua oleh Allah. [21]

Bila sensus divinitas diciptakan untuk mengkonfrontir manusia dari segi eksistensi dan keagungan Allah, maka fungsi hati nurani adalah supaya Allah dapat mengkonfrontir manusia dari kewajiban dan moralitas yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah sang Pencipta. Walaupun sama seperti sensus divinitas yang tidak bersifat redemptive, tetapi fungsi dasar hati nurani adalah sebuah kesadaran yang ada dalam diri manusia untuk membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga manusia memiliki kemampuan untuk memutuskan apa yang harus diperbuatnya. Selain itu hati nurani merupakan tanda ikatan yang tidak terpisahkan antara ciptaan dan Pencipta dan juga sebuah tanda dari immortalitas jiwa manusia. [22]

Calvin mengatakan tentang hati nurani bahwa :

Kesadaran tentang penghakiman Allah, suatu kesadaran yang menjadi saksi yang memperlihatkan kepada kita dengan amat jelasnya baik diriNya maupun kerajaanNya yang diberikan kepada mereka dan yang tidak membiarkan mereka menyembunyikan dosa-dosa mereka, tetapi menyatakan mereka bersalah di depan mimbar pengadilan Sang Hakim. . . . [Ia tidak membiarkan] manusia memendam dalam dirinya sendiri apa yang diketahuinya, tetapi mengejarnya sampai membuat dia mengaku kesalahannya. Di dalam cermin karya-karyaNya Tuhan langgeng. Namun demikian kita begitu bebal, sehingga kita bersikap lamban terhadap kesaksian-kesaksian yang sejelas itu, dan hilanglah semua itu tanpa ada buahnya. Sebab mengenai bangunan dunia yang begitu indah terbitnya itu, siapakah di antara kita yang, waktu mengangkat mata ke langit atau melayangkan pandangan ke segala penjuru bumi, membuka hatinya dan mengingat sang Pencipta?

Dari penjelasan yang diungkapkan oleh Calvin kita bisa menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya semua manusia sedikit banyak memiliki pengetahuan tentang Allah yang bersifat general dan tidak bisa terhindar sebagai mahkluk yang bermoral. Sebagaimana yang dikatakan Calvin bahwa setiap manusia pasti mengakui perlunya Tuhan, baik itu melalui hati nurani manusia di mana bisa memilih antara yang baik dan yang jahat, maupun benih ilahi yang ada di dalam setiap diri manusia.

IV. IMPLIKASI PENGETAHUAN TENTANG ALLAH DAN DIRI KITA SENDIRI

Calvin menegaskan bahwa dua pengetahuan tersebut “pengetahuan tentang Allah dan diri sendiri” memiliki keterkaitan satu sama lain. Keduanya sangat terkait karena manusia adalah gambar Allah yang tidak dapat dihapus dan kekal. K. S. Oliphint mengatakan bahwa Calvin menjabarkan apa artinya pengetahuan yang benar tentang diri sendiri itu bergantung pada pengetahuan tentang Allah. Di sini tampaknya Calvin mengisi pembahasannya dengan pengertian tentang apa artinya menjadi gambar Allah. Pada saat kita berpikir bahwa kita bukan gambar Allah, tetapi realitas yang independen, kita memiliki visi yang tidak benar dan menipu tentang siapa kita.[23] Selama kita tidak melihat melampaui dunia ini, cukup puas dengan kebenaran, hikmat, dan kebajikan kita sendiri, kita memuji diri kita sendiri dengan manis dan membayangkan diri kiya nyaris setengah dewa. [24]

Calvin, di dalam tulisannya, mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah mencapai pengetahuan yang jelas tentang dirinya jikalau ia tidak lebih dahulu melihat kepada wajah Allah, kemudian turun dari perenungan akan Allah kepada pemeriksaan yang teliti atas dirinya sendiri. Semakin mengenal Allah membuat kita semakin mengenal diri yang adalah gambar dan rupa Allah, dan semakin mengenal diri juga akan membuat kita semakin mengenal Allah yang menciptakan kita. Keduanya sangat erat terkait dan akan terus bertumbuh seiring pertumbuhan iman kita.

kepastian kebenaran tidak pernah ada pada objek yang kita pelajari itu sendiri. Kepastian kebenaran hanya diberikan oleh Allah melalui iluminasi Roh Kudus. Iluminasi Roh Kudus dan firman Tuhan yang dinyatakan melalui Alkitab harus menjadi standar konfirmasi. Calvin mengibaratkan Alkitab sebagai kacamata bagi kita agar dapat membaca alam dengan jelas dan benar. Demikian keduanya, iluminasi Roh Kudus dan Alkitab harus menjadi standar kita dalam mengatakan apakah sebuah pengetahuan adalah pengetahuan yang benar atau salah. Pengetahuan yang benar akan membawa manusia melihat pada kuasa dan kemuliaan Tuhan. Anugerah Allah akan membawa kita mengerti dengan benar apa yang Allah nyatakan melalui wahyu umum-Nya. Di atas dunia ini tidak ada satu hal pun yang dapat kita mengerti jikalau tidak ada anugerah Allah yang menopang kita untuk dapat mengerti. Kita bahkan tidak dapat mengetahui bahwa sebuah batu adalah sebuah batu bila kebenaran Allah tidak menopang kita.

KESIMPULAN

Pusat dari teologi Calvin adalah Allah dan bukan manusia; Manusia hanya memperoleh pengenalan akan eksistensi dan arti hidupnya apabila Ia mengenal Allah. Karena itu pengetahuan akan Allah yang benar menjadi prioritas hidup manusia. Karena apabila doktrin Allah dari seseorang tidak tepat dan tidak alkitabiah, maka penyimpangan itu akan mempengaruhi doktrin-doktrin yang lainnya atau dampaknya akan berimbas ke mana-mana. [25]

Penempatan dua konsep ini di awal Institutio menunjukkan inti atau tema dari semua yang diajarkan oleh Calvin yang terdiri dari dua bagian: pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita”. Namun, walaupun keduanya disatukan melalui banyak ikatan, tidak mudah untuk mengetahui mana yang lebih dahulu dan menghasilkan yang lain“. Dua macam pengetahuan tersebut bagi Calvin merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Konsep tentang Allah yang benar hanya dimungkinkan apabila kita memiliki konsep yang benar tentang diri kita sendiri, begitu pula sebaliknya. Pandangan ini dengan mudah dapat kita setujui berdasarkan catatan Alkitab yang mengajarkan bahwa manusia adalah gambar Allah (Kej 1:26-28). Status sebagai gambar Allah ini menjadikan manusia mulia (karena sebagai gambar Allah) sekaligus hina (karena manusia tetaplah ciptaan, bukan Allah).

Maka, kiranya kita sebagai anak-anak Allah memohon anugerah Allah, pertama-tama agar Ia memberikan kepada kita hati yang mau mencintai dan mau ditaklukkan oleh kebenaran Tuhan, dan juga mau sungguh-sungguh belajar untuk berespons dengan benar terhadap wahyu yang Tuhan nyatakan bagi manusia. Bukan untuk kemuliaan kita, bukan agar kita terlihat sebagai kaum intelektual yang rohani, tetapi untuk menjawab tantangan zaman ini, untuk menyatakan kebenaran, dan kemuliaan Tuhan kepada dunia. Penyembahan dan pemujaan yang kita lakukan dapat menjadi milik kita ketika kita melihat pengetahuan tentang Allah sebagai pencipta terkait erat dengan pengetahuan (dikumpulkan sedikit-demi sedikit dari Kitab Suci) tentang Allah sang Penebus. Oleh sebab itu kiranya Ia harus semakin besar dan kita harus semakin kecil. Amen!


KEPUSTAKAAN

Calvin , John. Institutio Diterjemahkan dan diedit oleh Donald K. McKim London: Westminster John Knox Press, 2000

Calvin, John, Institutio Diterjemahkan dan diedit oleh Th. Van den End: Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000

Calvin, John, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh Henry Beveridge. Massachusetts: Hendrickson Publisher, 2008

Calvin, John, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh John T. McNeil, London: Westminster John Knox press, 2006

Calvin, John. Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh Elsie Anne McKee, Grand Rapids: Wm.B.Eerdmans Publising Co, 2009

Dowey, Edward A. The Knowledge of God in Calvin’s Theology, Michigan: William B.Eerdmans Company, 1994

John M. Frame, Doktrin Pengetahuan tentang Allah, Malang: SAAT, 2004

Lukito, Lucas 500 Tahun Yohanes Calvin: Pengetahuan Tentang Allah adalah Testing Ground Untuk Mengenal Manusia. Veritas-Jurnal Teologi dan pelayanan, SAAT Malang, 2009

McNeill, John T, The History and Character of Calvinism, New York: Oxford University Press, 1967

Oliphint, K. Scott Penuntun Ke Dalam Theologi Institutes Calvin, Editor: David W. Hall & Peter A. Lillback, Surabaya: Momentum, 2010

Wendel, Francois. Calvin - Asal usul dan perkembangan pemikiran religiusnya, Surabaya: Momentum, 2010



[1] Francois Wendel dalam bukunya yang berjudul: Calvin - Asal usul dan perkembangan pemikiran religiusnya mengatakan bahwa: Gerard Cauvin berasal dari kalangan pengrajin dan tukang perahu. Pada tahun 1481 Gerard telah menjadi salah satu juru tulis kota, pengumpul dana bagi kantor keuskupan, agen pajak, sekretaris bagi uskup dan yang terakhir procurator Dewan paroki gereja. Ibu Calvin berasal dari kalangan borjuis dan memiliki reputasi yang baik karena kesalehannya.

[2] Francois Wendel. Calvin - Asal usul dan perkembangan pemikiran religiusnya. (Surabaya: Momentum, 2010) 5.

[3] Lucas Lukito, 500 Tahun Yohanes Calvin: Pengetahuan Tentang Allah adalah Testing Ground Untuk Mengenal Manusia. (Veritas-Jurnal Teologi dan pelayanan, SAAT Malang, 2009). 5-6.

[4] John T. McNeill, The History and Character of Calvinism ( New York: Oxford University Press, 1967) 119.

[5] John Calvin, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh Henry Beveridge. (Massachusetts: Hendrickson Publisher, 2008) 4.

[6] John Calvin, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh John T. McNeil (London: Westminster John Knox press, 2006) 37.

[7] John Calvin, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh Elsie Anne McKee (Grand Rapids: Wm.B.Eerdmans Publising Co, 2009) 23.

[8] John M. Frame, Doktrin Pengetahuan tentang Allah, (Malang: SAAT, 2004) 8.

[9] Francois Wendel, Calvin-Asal usul dan Perkembangan Pemikiran religiusnya (Surabaya: Momentum, 2010) 163.

[10] John Calvin, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh John T. McNeil (London: Westminster John Knox press, 2006) 37-38.

[11] John Calvin, Institutio Diterjemahkan dan diedit oleh Th. Van den End (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000) 21.

[12] John Calvin, Institutio Diterjemahkan dan diedit oleh Donald K. McKim (London: Westminster John Knox Press) 9.

[13] Ibid, 10.

[14] Ibid, 11.

[15] Francois Wendel, Calvin-Asal usul dan Perkembangan Pemikiran religiusnya (Surabaya: Momentum, 2010) 164-165.

[16] John Calvin, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh Elsie Anne McKee (Grand Rapids: Wm.B.Eerdmans Publising Co, 2009) 27.

[17] Edward A. Dowey. The Knowledge of God in Calvin’s Theology, (Michigan: William B.Eerdmans Company, 1994) 50.

[18] John Calvin, Institutio Diterjemahkan dan diedit oleh Th. Van den End (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000) 18.

[19] Ibid, 13.

[20] John Calvin, Institutio Diterjemahkan dan diedit oleh Donald K. McKim (London: Westminster John Knox Press) 5.

[21] K. Scott Oliphint, Penuntun Ke Dalam Theologi Institutes Calvin, Editor: David W. Hall & Peter A. Lillback (Surabaya: Momentum, 2010), 28.

[22] Lucas Lukito, 500 Tahun Yohanes Calvin: Pengetahuan Tentang Allah adalah Testing Ground Untuk Mengenal Manusia. (Veritas-Jurnal Teologi dan pelayanan, SAAT Malang, 2009) 23.

[23] Ibid, 26.

[24] John Calvin, Institutio, diterjemahkan dan diedit oleh John T. McNeil (London: Westminster John Knox press, 2006) 42.

[25] Lucas Lukito, 500 Tahun Yohanes Calvin: Pengetahuan Tentang Allah adalah Testing Ground Untuk Mengenal Manusia. (Veritas-Jurnal Teologi dan pelayanan, SAAT Malang, 2009) 26.